Laskar Senja

gambar dari sini
Selesai semua urusan di kampus, saya pun segera  menuju akivitas berikutnya, mengambil motor ditempat parkir dan mengabaikan suara-suara yang memungkinkan singgah sejenak, cuma sekedar minum kopi atau ngobrol hingga malam, takutnya ketika larut dalam pembicaraan sehingga melupakan tujuan utama.  Setelah sampai ketempat parkir ternyata motorku sudah tidak tertata rapi, dibiarkan begitu saja sedangkan tukang parkir tetap saja meminta bayaran sesuai standar tak mau kurang. “Padahal dia telah mendapat upah dari universitas, jika dijumlahkan ada ratusan motor yang keluar masuk dan harus tetap membayar, ditambah lagi upah pokok didapatnya. Manusia emang susah mengontrol rasa syukur, kataku dalam hati”.

Setelah menempuh jarak sekitar 10 Kilo meter, hingga cukup menguras tenaga yang kini tersisa sedikit. Akhirya sampai juga di Pantai Losari salah satu tempat wisata Makassar, saya pun kembali memarkir  motor lalu mencari tempat tujuan utama yang ingin saya datangi. Berjalan sampai tulisan besar yang bertuliskan City of Makassar, saya pun melihat beberapa teman SIGi(Sahabat Indonesia Berbagi Makassar) telah berkumpul bersama berapa anak jalanan yang mengamen setiap hari disana, lalu dikumpulkan untuk belajar bersama disana dalam kegiatan SIGi Carakde (baca: pintar) kegiatan rutin dilakukan oleh teman-teman SIGi untuk belajar bersama.

Beberapa teman berdatangan satu persatu petanda kegiatan belajar bersama dengan adik pengamen akan segera dimulai. Sangat tidak mengecewakan datang hari ini dengan melihat wajah adik pengamen yang mempunyai antusias belajar cukup besar menutupi rasa lelah saya yang telah beraktivitas seharian, apalagi ternyata ada beberapa adik umurnya dikatakan mampu membaca, ternyata mengenal huruf pun tak sanggup, sungguh miris sekali kota memunyai slogan menuju kota dunia ini namun masih ada anak tak mampu megenal huruf. Sembari mengajar adik, kami disuguhkan lukisan senja sangat menarik di Pantai Losari  seperti semangat mereka terpancar jelas dimatanya untuk belajar demi menata hidup lebih baik, jeda sejenak kemudian kembali kehidupan yang nyata, mencari uang walau bukan untuk dirinya semata. Saya sebut adik-adik itu Laskar Senja.

Dipenutupan kegiatan kami anak SIGi dan adik-adik pengamen sepakat bertemu lagi, untuk sama- sama belajar.

Sungguh dik, kau telah mengajarkanku banyak hal, termasuk rasa.

6 Desember 2013, pukul 20:25