Lingkaran Baru


Entah harus memulai tulisan ini dari arah mana, awal mulanya saya bawah berlari ke utara hingga ke timur atau bisa saja melayang ke selatan lalu menghilang ke tenggara. Pada akhirnya akan menjadi lingkaran, mengajak berkeliling ke semua arah seperti aktifitas saya jalani belakangan ini.

Segala sesuatunya tak mengenal arah, berputar tapi tak berujung lalu saya masuk dalam lingkaran itu di Bulan Desember yang lalu, rutinitas yang berulang namun tak ada ujungnya.

Saya akan bercerita tentang sedikit lingkaran, sebut saja pekerjaan yang saya lakukan setiap hari, terkesan membosankan tapi sungguh menulis rutinitas ini butuh kerja semalam, menahan kantuk tak karuan lalu menidurkan rindu yang lagi damai dalam pikiran.

Sungguh pekerjaan ini belum kujalankan dengan baik. Tugas pertama, saya harus menguasai alat yang saya pakai dalam menjalankan tugas ini. Kedua, harus melatih daya kreatifitas juga imajinasi dalam hitungan detik. Tak kalah pentingnya harus disiplin waktu dan kesehatan tubuh. Selain itu, wajib menghemat agar 'surat' tak sembarangan masuk dalam kantong sakumu.

Bekerja sebagai jurnalis adalah kesenangan sendiri bagi jiwa, saya bisa berada tidak hanya satu lokasi dalam sehari dan menjadi penyangsi beberapa peristiwa utama yang terjadi dalam kota Makassar. Menyenangkan jika kau membuat lingkaran utuh, berlari hingga kau lupa yang dimana awal dan akhirannya.

Dua bulan, Ibarat bayi ,umurku dalam lingkaran ini masih dalam keadaan tak berdaya. Berusaha merabah lingkaran ini, menjelajahi setiap sudut ruang atau sekedar mengetahui siapa yang melahirkan saya ke dalam lingkaran ini, agar bisa merangkak lalu bediri, setelah itu berlari untuk bisa menguasai sudut lingkaran dan tidak menjadikan rutinitas membosankan.

Beberapa kejadian penting, saya rekam dalam memory ingatan seperti pertama kali memasuki tempat hiburan malam yang mengharuskan liputan DJ Adina Butar saat itu, DJ asal Rumania yang berparas cantik, siluet tubuhnya yang erotis dan segala hal yang ‘memabukkan’ di depan mata membuat tidak kuselesaikan penampilannya. Lalu, saya ajak teman untuk beranjak pergi segera saat melihat siluet itu di kepung oleh lelaki 'pemabuk'.

Juga sekali waktu berbincang dengan sekelompok lelaki yang sering bermain skateboard di pelataran Masjid Al-Markaz, lalu ia berbicara tentang ruang bermain untuk anak muda sekarang ini, "Seandainya di support aktifitas anak-anak muda sama orang tuanya atau tidak ditekan jadi apa, pasti tidak akan adaji begal," sambil serius menjelaskan di hadapan saya.

Ia melanjutkan argumennya bahwa kota ini semakin sedikit ruang terbuka hijau dan lapangan bermain jadi terkadang anak muda sekarang ini melampiaskan 'kreatifitasnya' hal yang negatif karena kurangnya mendapat apresiasi dari berbagi pihak. Saat itu saya tidak terlalu banyak komentar, saya hanya mengabadikan gambarnya lalu lebih banyak mendengarkan.

Pada saat itu juga Gembira, Mendapat kesempatan pertama bisa liputan saat kedatangan orang kedua Indonesia, Wakil Presiden. Sungguh! Ini kesempatan pertama jadi betapa senangnya.
Juga sering berada di tengah acara penting kota, menjadi saksi dari masyarakat banyak untuk peristiwa yang terjadi saat itu.

Saya mengingat perkataan senior saat mendampingi dirinya menjadi pemateri foto jurnalistik, ia berkata bahwa menjadi jurnalis mengantarkan dirinya mengenal segala hal. Mulai dari kolong jembatan sampai rumah jabatan. Selain itu yang ia lakukan dalam fotografi ialah bisa mengubah keputusan kekuasaan dan mengkritik kinerja pemerintahan agar ada kepedulian secara menyeluruh kepada rakyat, dan bisa berada saat kegiatan penting negara.

Foto : klik disini

0 komentar:

Posting Komentar